Minggu, 19 April 2015

Kisah Nabi Isa dengan Temannya yang Serakah



Dikisahkan pada suatu hari Nabi Isa berjalan dengan seorang sahabatnya yang baru ia kenal. Keduanya menelusuri tepi sungai dan membawa tiga potong roti. Roti itu dibagi untuk Nabi Isa sepotong, untuk sahabat barunya sepotong, sehingga masih tersisa satu potong roti.
Setelah makan roti itu Nabi Isa pergi ke sungai untuk minum. Sekembalinya dari sungai, Nabi Isa mendapati sepotong roti tadi tidak ada. Ketika beliau bertanya kepada sahabatnya, sang sahabat mengaku tidak tahu. Keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan.
Sesampai di sebuah hutan, keduanya duduk untuk beristirahat. Nabi Isa mengambil tanah dan kerikil, kemudian beliau berkata, “Jadilah emas dengan izin Allah.” Tiba-tiba kerikil itu pun berubah menjadi emas. Kemudian Nabi Isa membagi emas tersebut menjadi tiga bagian. “Untukku sepertiga, dan kamu sepertiga, sedang sepertiga ini akan kuberikan untuk orang yang mengambil roti tadi.”
Spontan sahabat itu menjawab, “Akulah yang mengambil roti itu.” Nabi Isa kemudian berkata, “O ya, kalau begitu ambillah dua bagian ini untukmu.” Setelah itu keduanya pun berpisah.
Sahabat itu merasa sangat gembira. Namun dalam perjalanan, dia dihadang oleh dua orang perampok yang ingin membunuhnya. Sahabat Nabi Isa menawarkan, untuk membagi emas yang dibawanya menjadi tiga asalkan ia tidak dibunuh. Kedua orang perampok itupun setuju.
Lalu salah seorang perampok menyuruh rekannya pergi ke pasar untuk berbelanja makanan. Ketika sampai di pasar, orang yang berbelanja itu berfikir untuk apa membagi emas itu menjadi tiga. Ia pun menaburkan racun ke dalam makanan agar temannya dan nabi Isa mati dan ia pun dapat memiliki seluruh emas tersebut.
Tinggallah sahabat Nabi Isa bersama seorang perampok di hutan itu. Namun perampok yang tinggal itu ternyata berpikiran sama seperti yang sedang pergi ke pasar. Ia bersekongkol dengan sahabat Nabi Isa tadi untuk membagi emas itu berdua saja dan membunuh rekannya yang berbelanja makanan jika ia datang.
Ketika orang yang berbelanja itu datang, ia pun langsung dibunuh, hartanya akan dibagi dua. Karena merasa lapar keduanya pun menyantap makanan yang telah diberi racun itu hingga mereka berdua mati.
Ketika Nabi Isa berjalan melewati hutan tersebut, beliau menemukan emas di samping tiga mayat yang terbujur kaku. Beliau kemudian berkata “Inilah contoh orang yang rakus terhadap harta dan dunia, maka berhati-hatilah kamu kepadanya.”

Kisah Nabi Musa dengan Qarun



Qarun termasuk kaum Nabi Musa a.s. Semula ia adalah seorang yang sangat miskin. Suatu saat ia memohon kepada Nabi Musa agar didoakan menjadi kaya. Dengan izin Allah, maka Qarun beberapa waktu kemudian menjadi kaya. Harta dan simpanannya sangat banyak. Bahkan kunci-kunci simpanan kekayaannya tidak dapat dibawa kecuali oleh beberapa orang yang bertubuh kuat.
Akan tetapi, Qarun mendurhakai Nabi Musa dan Harun, ia tidak menerima nasihat keduanya, dan ia menyangka bahwa harta dan kenikmatan yang didapatkannya adalah semata-mata haknya. Tidak ada hak orang lain termasuk fakir miskin. Ia bersikukuh bahwa ia memperolehnya semata-mata karena kerja keras dan ilmunya.
Suatu hari, Qarun keluar ke Madinah dengan perhiasan yang gemerlap dan perlengkapan yang banyak sambil memakai pakaian yang tampak mewah seperti seorang raja. Ketika ia melewati berpapasan dengan orang lain, maka sebagian mereka mendekatinya untuk memberinya nasihat dengan berkata, “Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang terlalu membanggakan diri. Ingatlah akan negeri akhirat, dan janganlah kamu terlena dengan gemerlap dunia.”
Mendengar nasihat itu Qarun menolaknya dengan sombong, ia berkata,“Sesungguhnya harta itu milikku, apa urusan kalian? Aku bisa kaya raya karena ilmu dan keahlian yang ada padaku.” Ia begitu sombongnya dan menyatakan bahwa harta yang diperolehnya ini karena kecerdasan dan kemampuannya, bukan karena siapa-siapa.
Suatu ketika Qarun keluar ke hadapan manusia dengan satu iring-iringan yang lengkap dengan pengawal, hamba sahaya, dan segala kemewahannya untuk memperlihatkan kemegahannya kepada kaumnya. Saat itu, sebagian manusia ada yang terpukau dengan kekayaan dan perhiasan Qarun, mereka ingin sekiranya mereka mempunyai seperti yang dimiliki Qarun, tetapi orangorang saleh di antara mereka berkata, “Janganlah kamu silau dengan harta, pahala Allah lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal saleh.”
Ketika Qarun terus bersikap matrialistis, sombong, dan congkak, maka Allah membenamkan Qarun dan rumahnya ke dalam bumi, dan tidak ada seorang pun yang mampu menolongnya. Ketika peristiwa mengerikan itu terjadi, orang-orang yang semula ingin seperti Qarun itu, berkata, “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Wahai, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah).”

Selasa, 17 Maret 2015

Pengaruh Wafatnya Rasul Terhadap Kaum Muslimin



Begitu melihat Rasulullah wafat kaum muslimin menjadi bingung apa yang harus diperbuat; fikiran mereka tidak sanggup menghadapi kenyataan itu. Para shahabat tidak membayangkan bahwa Rasulullah benar-benar sudah wafat, sehingga Umar bin Khattab mengatakan akan membunuh siapa yang mengatakan Rasulullah telah wafat.
Setelah Abu Bakar mengetahui bahwa Rasulullah benar-benar telah wafat, kemudian, berpidato di hadapan kaum muslimin memberitahukan kemangkataan Rasulullah dan membacakan Surat Az Zumar ayat 30 dan Surat Ali Imran 144
Artinya : “Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (QS. Az Zumar : 30).
Artinya : “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh Telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran : 144).
Mendengar pidato dan ayat yang dibacakan Abu Bakar maka Umar bin Khattab dan kaum muslimin yang lain pun insaf dan sadar bahwa Rasulullah yang sangat mereka cintai dan muliakan memang telah wafat.
Sebelum jenazah Rasulullah dimakamkan telebih dahulu diselenggarakan pemilihan khalifah yang akan menggantikan kedudukan Rasulullah sebagai pemimpin umat islam.
Setelah didahului oleh perselisihan antara kaum Anshar dan Muhajirin, akhirnya terpilihlah  Abu Bakar sebagai khalifah. Semua orang menyetujui pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah.
Sepeninggalan Rasulullah seluruh kaum muslimin merasa sedih yang amat sangat dan setiap kali dibacakan nama ”Muhammad Rasulullah” pada azan bercucuranlah air mata kaum muslimin mendengarkannya. Maereka mengingat kembali Rasulullah.
Sebagai kaum muslimin telah murtat dari islam dan tidak mau membayar zakat. Mereka menganggap bahwa zakat hanyalah upeti yang harus diberikan kepada Rasulullah, maka setelah Rasulullah wafat zakat tidak perlu diberikan lagi.
Di samping itu sebagai kaum muslimin lain telah membuat dan mengangkat nabi palsu. Di antara mereka yang mengangkat dirinya sebagai nabi adalah :
1.         Thulaihan bin Khuwailid
2.         Sa’jah Tamimiyah
3.         Musailamah Al-Kazzab
Kejadian-kejadian ini akhirnya dapat ditumpas oleh Abu Bakar dalam tempo seluruh masa pemerintahannya yaitu 2 tahun 3 bulan dengan manyiapkan 11 pasukan tentara kaum muslimin untuk memberantas para perusuh itu.
Dengan keberhasilannya Abu Bakar menumpas para perusuh tersebut suasana dalam negeri tentram kambali dan kaum muslimin dapat melaksanakan kehidupan sehari-hari sebagaimana bisaanya.

Minggu, 15 Maret 2015

Nabi Muhammad SAW Dalam Asuhan Ibu, Kakeknya dan Pamannya



Setelah Halima Sa’diyah mengembalikan Nabi Muhammad SAW kepada ibundanya Siti Aminah, maka mulailah saat itu Nabi Muhammad SAW berada di tengah-tengah keluarga. Ibunda Siti Aminah langsung mendidik Nabi Muhammad SAW dengan penuh kasih sayang. Tatkala Nabi Muhammad SAW berusia enam tahun, beliau diajak ibundanya Siti Aminah dan ditemani pembantu setianya Ummu Aiman ke Yatsrib (Madinah) untuk berziarah ke kubur ayahanda Abdullah serta mengunjungi paman-pamannya dari Bani Najjar dan menetap beberapa hari di sana. Dan dalam perjalanan pulangnya, ibunda Siti Aminah wafat, yaitu di tempat yang bernama Abwa’. Dan di tempat itu pula beliau dikebumikan. Kini Nabi Muhammad SAW telah menjadi yatim piatu Muhammad berpisah dengan ibundanya dalam usia enam tahun, bersama Ummu Aiman Nabi Muhammad SAW kembali ke Makkah, setibanya di Makkah Ummu Aiman menceriterakan periatiwa meninggalnya Siti Aminah pada keluarga Abdul Mutholib, kemudian Nabi Muhammad SAW diserahkan pada kakenya Abdul Mutholib, dan sebagai pembantu yang setia Ummu Aiman tetap ikut mengasuh Nabi Muhammad SAW.     Dan  di tangan kakeknya, Abdul Mutthalib, ia mendapatkan gantinya. Lalu Abdul Mutthalib menjaga, mengasuh, dan memberikan kasih sayang kepadanya. Setelah genap usia delapan tahun, kakeknya pun meninggal dunia. Setelah itu, pamannya, Abu Thalib yang mengasuhnya sekalipun ia mempunyai banyak tanggungan (keluarga) dan harta sedikit. Pamannya demikian pula isterinya memperlakukannya seperti salah satu dari anak-anak mereka. Anak yatim ini sangat bergantung kepada pamannya. Dalam kondisi inilah Nabi Muhammad SAW mulai membentuk sifat dasarnya (karakternya). Beliau tumbuh atas dasar kejujuran dan amanah, sehingga keduanya menjadi gelar baginya. Maka jika orang-orang mengatakan: “Telah datang al-Amin” (orang yang dapat dipercaya), maka bisa diketahui bahwa yang dimaksud adalah Muhammad.
     Sewaktu masih kanak-kanak Nabi Muhammad SAW rajin bekerja dan lebih suka menggembala kambing, karena dengan pekerjaan itu beliau dapat bergaul langsung dengan anak-anak yang tergolong miskin , hikmah beliau mengembala kambing adalah dapat memberi bimbingan dan latihan jiwa kepada beliau untuk bersabar, tabah, kasih sayang dan menjaga serta menolong makluk yang lemah. Pada waktu Nabi Muhammad SAW berusia 12 tahun pamannya Abu Tholib mengajak beliau ke negeri Syam untuk berdagang, ketika sampai di kota Bushra ada pendeta Nasrani bernama Buhaira mendatangi rombongan tersebut lalu memperhatikan Nabi Muhammad SAW, setelah mendapatkan tanda-tanda kenabian pada wajah Nabi Muhammad SAW, pendeta tersebut menasehati Abu Tholib agar segera kembali ke Makkah, demi keselamatan Nabi Muhammad SAW dari gangguan dan pembunuhan orang Yahudi, dan agar dia menjaganya dengan baik, karena kelak akan manjadi Rasul. Mendengar cerita itu Abu Tholib kemudian bergegas kembali ke Makkah.
  Setelah melewati masa remaja dan beranjak dewasa, Muhammad mulai berdikari dan mencari biaya hidupnya sendiri. Maka mulailah beliau bepergian untuk bekerja dan berusaha. Beliau bekerja sebagai pengembala kambing bagi beberapa orang Quraisy dan menerima upahnya.Kepribadian Muhammad sebelum menjadi Rosul Di waktu Muhammad masih muda di Nakhlan antara Makkah-Madinah terjadi Perang Fujjar antara Bani Kinanah dan kaum Quraisy. Muhammad ikut berperang bersama Abu Tholib. Setelah peperangan ini, terjadi kegoncangan dalam menjaga tata hukum di kota Makkah karena Abdul Muthalib telah wafat, sehingga terjadilah kesewenang-wenangan di Makkah. Oleh karena itu dibuatlah persumpahan yang dinamai “Hilful Fudlul” untuk melindungi tiap orang, baik penduduk kota maupun orang asing, serta dibentuklah organisasi untuk itu. Muhammad terpilih sebagai salah seorang pemimpin organisasi tersebut. Dari peristiwa inilah Muhammad terpilih sebagai salah seorang pemimpin organisasi tersebut. Dari peristiwa inilah Muhammad kelihatan betapa besar kasih sayangnya kepada sesama manusia, dan terkenal sebagai pemuda yang halus budinya dan mulia sifatnya.
Di waktu muda itulah Muhammad digelari Al Amin karena jasanya menyelesaikan pertengkaran antar suku dalam hal meletakkan hajar aswad di tempatnya dalam Ka’bah.Muhammad juga seorang yang gagah berani, tangkas, satria, senantiasa maju tak kenal gentar. Sabar menghadapi cobaan, kuat memegang cita-cita, teguh hatinya.Kehidupannya hanya dihiasi ketaatan kepada Allah tidak mementingkan dunia, pakaiannya hanya seperlunya saja, hidup amat sederhana.Dalam rumahnya Muhammad tidak pernah menghardik bujangnya, sayang kepada segenap kerabatnya dan lemah lembut kepada mereka. Dirumahnya Muhammad tidak pernah membicarakan aib orang, dimulikannya orang yang pantas dimuliakan menurut perangai dan agamanya. Terhadap orang yang yang membencinya Muhammad sangat pemaaf.Demikian antara lain sifat dan tabiat Muhammad yang menghiasi kepribadiannya yang kuat dan besar.
Muhammad juga seorang yang gagah berani, tangkas, satria, senantiasa maju tak kenal gentar. Sabar menghadapi cobaan, kuat memegang cita-cita, teguh hatinya. Kehidupannya hanya dihiasi ketaatan kepada Allah tidak mementingkan dunia, pakaiannya hanya seperlunya saja, hidup amat sederhana. Dalam rumahnya Muhammad tidak pernah menghardik bujangnya, sayang kepada segenap kerabatnya dan lemah lembut kepada mereka. Dirumahnya Muhammad tidak pernah membicarakan aib orang, dimulikannya orang yang pantas dimuliakan menurut perangai dan agamanya. Terhadap orang yang membencinya Muhammad sangat pemaaf. Demikian antara lain sifat dan tabiat Muhammad yang menghiasi kepribadiannya yang kuat dan besar.
     Kemudian Muhammad segera bergabung dengan rombongan dagang ke negeri Syam. Rombongan tersebut dibiayai oleh Khadijah binti Khuwailid, seorang wanita terpandang yang sangat kaya, dengan dana besar. Dalam rombongan ini, Khadijah mewakilkan hartanya kepada Maisarah, pembantunya sekaligus orang yang mengatur segala urusannya. Dengan keberkahan dan keamanahan Rasulullah, perdagangan Khadijah mendapatkan laba yang belum pernah dialami sebelumnya. Lalu ia bertanya kepada Maisarah perihal penyebab laba yang cukup besar ini. Maisarah menceritakan bahwa Muhammad bin Abdullah yang menangani urusan barang dan penjualan, dan dia pula yang menghadapi orang-orang dengan sangat mengagumkan. Sehingga laba yang besar bisa diperoleh tanpa ada unsur penganiayaan. Khadijah mendengarkan penuturan Maisarah, dan dari situlah dia mulai mengenal beberapa hal mengenai Muhammad bin Abdullah dan merasa kagum kepadanya.
     Khadijah adalah seorang perempuan yang berakhlak mulia dan berhati dermawan, sebelumnya pernah menikah, tapi kemudian suaminya meninggal dunia. Lalu ia ingin mencoba kehidupan baru dalam tanggungan suami yang bernama Muhammad bin Abdullah. Maka iapun mengutus salah seorang kerabatnya bernama Nafisah Binti Munirah untuk mengetahui tanggapan Muhammad bin Abdullah dalam urusan tersebut, sedangkan beliau pada waktu itu telah berusia 25 tahun. Nafisah binti Munirah menyampaikan kepada beliau agar mau menikah dengan Khadijah, awalnya Nabi Muhammad SAW ragu mengingat keadaan dirinya yang tidak memiliki harta. Namun Nafisah binti Munirah meyakinkan Nabi Muhammad SAW bahwa semata-mata Siti Khatijah memilihnya karena akhlak dan budinya yang mulia. Beliaupun  menyetujuinya. Akhirnya, keduanya menikah waktu itu usia Nabi Muhammad SAW 25 tahun sedang Siti Khatijah 40 tahun dan masing-masing merasa bahagia. Setelah itu, Muhammad mengambil alih dalam hal mengatur kekayaan Khadijah, dan beliau membuktikan kepiawaian dan kemampuannya. Secara berturut-turut, Khadijah hamil dan melahirkan hingga memiliki beberapa orang putera puteri, yang laki-laki bernama Qosim meninggal diusia 2 tahun kemudian lahirlah puteri-puteri beliau bernama Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum dan Fatimah, sedangkan putera keenam diberi nama Abdullah yang juga meninggal ketika masih dalam buaian ibundanya
Nabi Muhammad SAW sebagai seorang ayah yang sangat kasih sayang pada putera puterinya, demikian juga mereka sangat hormat dan kasih pasa kedua orangtuanya. Zainab dinikahkan dengan Abil ’Ash bin Rabi’ bin Abi Syam, Ruqaiyah dinikahkan dengan Uthbah, Ummu Khultsum dengan Utaibah, namun perkawinan keduanya tidak berlangsung lama karena kedua suami mereka dipaksa bercerai oleh ayah mereka Abu Lahab. Kemudian Ruqaiyah dinikahkan pada Ustman bin Affan dan setelah Ruqaiyah meninggal kemudia Ustman bin Affan manikah dengan Ummu Khultsum sedang Fatimah dinikahkan dengan Ali bin Abi Tholib.

PORTOFOLIO RANGKUMAN TUGAS PEMBATIK LEVEL 4 TAHUN 2023

Tidak terasa perjalanan yang luar biasa hingga sampai pada titik ini. Langkah demi langkah, menyelesaikan tugas demi tugas yang tentunya ber...