Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Karakter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Karakter. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 November 2016

Fungsi dan Tujuan Pendidikan Karakter



Pendidikan karakter memiliki tiga fungsi utama (Zubaedi, 2011:18). Pertama, fungsi pembentukan dan pengembangan potensi. Pendidikan karakter berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi peserta didik agar berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku baik sesuai dengan falsafah hidup pancasila. Kedua, fungsi perbaikan dan penguatan. Pendidikan karakter berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera. Ketiga, fungsi penyaring. Pendidikan karakter berfungsi memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat. Ketiga fungsi ini dilakukan melalui: (1) pengukuhan Pancasila sebagai falsafah dan ideologi negara, (2) pengukuhan nilai dan norma konstitusional UUD 45, (3) penguatan komitmen kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), (4) penguatan nilai-nilai keberagaman sesuai dengan konsepsi Bhineka Tunggal Ika, dan (5) penguatan keunggulan dan daya saing bangsa untuk keberlanjutan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia dalam konteks global.
Sedangkan tujuan pendidikan karakter adalah penanaman nilai dalam diri siswa dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Tujuan jangka panjangnya tidak lain adalah mendasarkan diri pada tanggapan aktif kontekstual individu atas impuls natural sosial yang diterimanya, yang pada gilirannya semakin mempertajam visi hidup yang akan diraih lewat proses pembentukan diri secara terus-menerus (on going formation). Tujuan jangka panjang ini merupakan pendekatan dialektis yang semakin mendekatkan dengan kenyataan yang ideal, melalui proses refleksi dan interaksi secara terus-menerus antara idealisme, pilihan sarana, dan hasil langsung yang dapat dievaluasi secara objektif (Doni Koesoema, 2010:135).
Menurut Said Hamid Hasan (dalam Zubaedi, 2011:18) pendidikan karakter secara perinci memiliki lima tujuan. Pertama, mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa. Kedua, mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religious. Ketiga, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi bangsa. Keempat, mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan. Kelima, mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, dan dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity). 
Jadi fungsi dan tujuan pendidikan karakter memiliki andil yang sangat besar dalam menentukan arah dan sebagai pedoman internalisasi karakter. Dengan fungsi dan tujuan tersebut diikhtiarkan terwujud insan kamil yang mempunyai posisi mulia di sisi Allah SWT. Secara garis besar pendidikan karakter merupakan jalan dalam mewujudkan masyarakat beriman dan bertaqwa yang senantiasa berjalan di atas kebenaran dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, kebaikan, musyawarah, serta nilai-nilai humanisme yang mulia.

Nilai-Nilai Pendidikan karakter

                       Nilai-Nilai Pendidikan karakter sebagai berikut:


No
Nilai Karater yang Dikembangkan
Deskripsi Perilaku
1
Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2
Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3
Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4
Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5
Kerja Keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6
Kreatif
Berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cata atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7
Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8
Demokrasi
Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9
Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari suatu yang dipelajarinya, dilihat, atau didengar.
10
Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11
Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas diri dan kelompoknya.
12
Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.
13
Bersahabat/Komunikatif
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14
Cinta Damai
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15
Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16
Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17
Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18
Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang seharusnya dia lakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan (alam, sosail, dan budaya), negara, dan Tuhan YME.

Jumat, 16 September 2016

Model Internalisasi Pendidikan Karakter



1.      Model Tadzkirah
Sebuah model untuk mengantarkan murid agar senantiasa memupuk, memelihara dan menumbuhkan rasa keimanan yang telah diilhamkan oleh Allah. Adapun makna Tadzkirah ialah:
a.       Tnjukkan teladan
b.      Arahkan
c.       Dorongan
d.      Zakiyah
e.       Kontinuitas
f.       Ingatan
g.      Repetisi (pengulangan)
h.      Organisasikan
i.        Heart (sentuhlah hatinya)
2.      Tunjukan Teladan
Keteladanan dan kecintaan yang kita pancarkan kepada anak, serta model kedekatan yang kita bina dengannya, akan membawa mereka mempercayai pada kebenaran perilaku, sikap dan tindakan kita. Maka dengan menabung kedekatan dan cinta kasih dengan anak, akan memudahkan kita nantinya membawa mereka pada kebaik-baikkan.
3.      Arahan (berikan bimbingan)
Bimbingan dan latihan dilakukan secara bertahap dengan melihat kemampuan yang dimiliki anak untuk kemudian di tingkatkan perlahan-lahan. Bimbingan akan tepat apabila disesuaikan dengan kemampuan, kebutuhan dan minat. Bimbingan dengan memberikan nasihat perlu memperhatikan cara-cara sebagai berikut:
a.   Cara memberikan nasihat lebih penting dibandingkan isi atau pesan nasihat yang akan disampaikan.
b.      Memelihara hubungan baik antara orang tua dengan anak, guru dengan murid, karena nasihat akan mudah diterima bila hubungannya baik.
c.       Memberikan nasihat seperlunya dan jangan berlebihan.
d.      Berikan dorongan agar anak bertanggung jawab dan dapat menjalankan isi nasihat.
4.      Dorongan
Motivasi adalah kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu untuk melakukan kegiatan mencapai tujuan. Dorongan harus senantiasa diberikan kepada anak yang ada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan agar tidak lekas merasa bersalah, rendah diri bahkan frustasi ketika menuai  hambatan dan kegagalan.
5.      Zakiyah (murni, suci dan bersih)
Orang Islam mengukur keutamaan, makna atau keabsahan gagasan dan tindakan dari sejauhmana keduanya memproses  penyucian diri. Dalam hal ini gurur agama Islam yang mempunyai fungsi dan peran cukup  signifikasn, dituntut untuk senantiasa memasukkan nilai-nilai batiniyah kepada anak dalam proses pembelajaran.
6.      Kontinuitas (sebuah proses pembiasaan dalam belajar, bersikap dan berbuat)
Al-Qur’an menjadikan kebiasaan itu sebagai salah satu teknik atau metode pendidikan. Lalu mengubah seluruh sifat-sifat baik menjadi kebiasaan, sehingga jiwa dapat menunaikan kebiasaan itu tanpa terlalu payah, tanpa kehilangan tenaga dan tanpa menemukan banyak kesulitan. Dengan demikian, kebiasaan yang dipergunakan oleh Al-Qur’an tidak terbatas hanya kebiasaan yang baik dalam bentuk perbuatan melainkan juga dalam bentuk perasaan dan pikiran.
Mengajarkan sikap lebih pada soalmemberikan teladan, bukan pada tataran teoritis. Memang untuk mengajarkan anak bersikap seorang guru perlu memberikan pengetahuan sebagai landasan. Akan tetapi, proses pemberian pengetahuan ini harus di tindaklanjuti dengan contoh.
7.      Ingatkan
Kegiatan mengingat memiliki dampak yang luar biasa dalam kehidupan. Ketika kita ingat sesuatu, maka ia akan mengingatkan pula pada rangkaian-rangkaian yang terkait dengannya. Ingatan bisa muncul karena kita mempunyai keinginan, kepentingan, harapan, dan kerinduan terhadap apa yang kita ingat. Kegiatan mengingat juga bisa memicu ide-ide dan kreativitas baru.
8.      Repetition (pengulangan)
Pendidikan yang efektif dilakukan dengan berulangkali sehingga anak menjadi mengerti. Pelajaran atau nasihat apapun perlu dilakukan secara berulang, sehingga mudah dipahami oleh anak. Fungsi utama dari pengulangan adalah untuk memastikan bahwa siswa memahami persyaratan-persyaratan kemampuan untuk suatu mata pelajaran. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengulangan, diantaranya:
a.   Pengulangan harus mengikuti pemahaman apa yang ingin dicapai dan dapat mempertinggi pencapaian pemahaman tersebut.
b.      Pengulangan akan lebih efektif jika siswa mempunyai keinginan untuk belajar tentang apa yang akan dilatihkan.
c.    Pengulangan harus individual. Latihan harus diorganisasikan sehingga siswa dapat bekerja secara independen pada tingkatannya sendiri berdasarkan kemampuannya masing-masing dalam belajar.
d.      Pengulangan harus sistematis dan spesifik.
e.       Latihan dan pengulangan harus mengandung latihan-latihan untuk beberapa kemampuan.
f.      Pengulangan harus diorganisasikan, sehingga guru dan siswa dapat memperoleh umpan baik dengan cepat.
9.      Organisasikan
Guru harus mampu mengorganisasikan pengetahuan dan pengalaman yang sudah diperoleh siswa di luar sekolah dengan pengalaman belajar yang berikutnya.pengorganisasian yang sistematis dapat membantu guru untuk menyampaikan informasi dan mendapatkan informasi secara tepat. Informasi tersebut kemudian dijadikan sebagai umpan balik untuk kegiatan belajar yang sedang dilaksanakan.
Dalam program perancangan dan pelaksanaan pembelajaran diikuti langkah-langkah strategis sesuai dengan prinsip didaktik, antara lain, dari mudah ke sulit, dari sederhana ke kompleks, dari kongkrit ke abstrak.
10.  Heart (hati)
Kekuatan spiritual terletak pada kelurusan dan kebersihan hati nurani, roh, pikiran, jiwa, dan emosi. Bahan bakar motif yang paling kuat adalah nilai-nilai, doktrin dan ideologi. Dengan demikian, maka guru harus mampu mendidik murid dengan menyertakan nilai-nilai spiritual. Guru harus mampu membangkitkan dan membimbing kekuatan spiritual yang sudah ada pada muridnya, sehingga hatinya akan tetap bening.

PORTOFOLIO RANGKUMAN TUGAS PEMBATIK LEVEL 4 TAHUN 2023

Tidak terasa perjalanan yang luar biasa hingga sampai pada titik ini. Langkah demi langkah, menyelesaikan tugas demi tugas yang tentunya ber...