Senin, 28 April 2014

Tafsir, Ta’wil dan Tarjamah



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tafsir adalah kunci untuk membuka gudang simpanan yang tertimbun dalam Al-Qur’an. Tanpa tafsir orang tidak akan bisa membuka gudang simpanan tersebut untuk mendapatkan mutiara dan permata yang ada didalamnya, sekalipun orang-orang berulang kali mengucapkan lafazh Al-Qur’an dan membacanya sepanjang pagi dan petang.
Sungguh sangat disayangkan bila Al-Qur’an itu cukup dilafazhkan berulang kali oleh orang-orang Islam dengan irama dan lagu yang mereka dengungkan dalam acara tradisi yang menyedihkan, dipekuburan-pekuburan dan pada acara-acara yang resmi, tetapi kesan yang diperoleh dari Al-Qur’an sedikitpun tak membekas kecuali sekedar nyanyian irama lagu atau sekedar mengambil berkah dari padanya.
Orang islam sungguh telah lupa atau lalai bahwa keberkahan dari Al-Qur’an yang besar itu sebenarnya hanya diperoleh dengan memahami dan menghayatinya, dan menuruti petunjuknya serta memanfaatkan ajaran-ajaran dan pengarahan-pengarahannya.kemudian berbijak pada seluruh perintah dan yang dikehendakinya serta menjauhkan segala yang dibenci dan dilarangnya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian Tafsir, Ta’wil, dan Tarjamah.
2.      Perbedaan Tafsir, Ta’wil dan Tarjamah.
3.      Persyaratan yang harus dimiliki bagi seorang yang ahli dalam tafsir dan tarjamah.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Tafsir, Ta’wil dan Tarjamah
1.      Tafsir
Secara etimologi tafsir ialah “keterangan” (Al-idhah) dan penjelas (Al-bayan). Tafsir adalah mashdar dari kata kerja (fiil) “fassara”. Kata “tafsir” diambil dari kata “fassara-yufassiru-tafsiran” yang berarti keterangan atau uraian.[1]
Menurut istilah pengertian tafsir ialah “ilmu untuk mengetahui kandungan kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan penjelasan maknanya serta pengambilan hukum serta hikmah-hikmahnya”.
Sebagian ahli tafsir ada yang mendefinisikan bahwa tafsir adalah “ilmu yang membahas tentang Al-Qur’anul Karim dari segi pengertiannya terhadap maksud Allah sesuai dengan kemampuan manusia”.
2.      Ta’wil
Arti ta’wil adalah menerangkan, menjelaskan. Diambil dari kata “awwala-yu’awwilu-ta’wilan”. Al-Qaththan dan Al-Jujani berpendapat bahwa arti ta’wil adalah “al-ruju’ ila Al-ashl” (berarti kembali pada pokoknya). Sedangkan arti bahasanya menurut Az-Zarqani adalah sama dengan arti tafsir.[2]
3.      Tarjamah
Kata terjemah berasal dari bahasa arab, “tarjama” yang berarti menafsirkan dan menerangkan dengan bahasa yang lain (fassara wa syaraha bi lisÇŽnin ÇŽkhar), kemudian kemasukan ta’ marbutah menjadi al-tarjamatun yang artinya pemindahan atau penyalinan dari suatu bahasa ke bahasa lain (naql min lighatin ilÇŽ ukhra).[3]
Sedangkan pengertian tarjamah secara terminologis, sebagaimana didefinisikan oleh Muhammad ‘Abd al-’Azhim al Zarqani ialah mengungkapkan makna kalam (pembicaraan) yang terkandung dalam suatu bahasa dengan kalam yang lain dan dengan menggunakan bahasa yang lain (bukan bahasa pertama), lengkap dengan semua makna-maknanya dan maksud-maksudnya.
B.     Perbedaan Tafsir, Ta’wil dan Terjemah
 Adapun perbedaan antara tafsir, ta’wil dan tarjamah dapat dijelaskan sebagai barikut:
1.      Tafsir
Menerangkan makna lafazh yang telah diterima selama satu hari, selain itu juga menetapkan apa yang dikehendaki ayat yang dikehendaki Allah SWT.
2.      Ta’wil
Menetapkan makna yang dikehendaki suatu lafazh yang dapat menerima banyak makna karena didukung oleh dalil dan mengoleksi salah satu makna yang mungkin diterima oleh suatu ayat tanpa menyakinkan bahwa itulah yang dikehendak Allah SWT serta menafsirkan batin lafazh.
3.        Tarjamah
 hanya mengubah kata-kata dari bahasa arab kedalam bahasa lain tanpa memberikan penjelasan arti kandungan secara panjang lebar tidak menyimpulkan dari isi kandungannya.
C.    Persamaan tafsir, ta’wil dan tarjamah
1.      Ketiganya menerangkan tentang makna ayat-ayat Al-Qur’an.
2.      Ketiganya sebagai sarana untuk memahami Al-Qur’an.
D.    Contoh ayat dan metode tafsir, ta’wil dan tarjamah
     Sungguh, Allah yang menumbuhkan butir (padi-padian) dan biji (kurma). Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Itulah (kekuasaan) Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?

6-095
                             
E.     Persyaratan yang harus dimiliki ahli tafsir, ta’wil dan tarjamah
1.      Ahli Tafsir
a.       Mengetahui bahasa Arab dan ketentuan-ketentuannya
b.      Mengetahui ushul fiqih.
c.       Mengetahui asbabun nuzul.
d.      Mengetahui tentang nasikh mansukh.
e.       Mengetahui ilmu qira’at
2.      Ahli Ta’wil
a.       Mengetahuai makna Al-Qur’an.
b.      Mengetahui pemahaman lafazh-lafazh.
c.       Ilmu yang ada di tafsir.
3.      Ahli Tarjamah
a.       Penerjemah hendaknya mengetahui dua bahasa (bahasa asli dan bahasa terjemah).
b.      Mendalami dan menguasai uslub-uslub dan keistimewaan-keistimewaan bahasa yang diterjemahkan.
c.       Hendaknya sighat (bentuk) terjemah itu benar dan apabila dituangkan kembali ke dalam bahasa aslinya tidak terdapat kesalahan.
d.      Terjemahan itu hatus dapat mewakili semua arti dan maksud bahasa asli dengan lengkap dan sempurna.
F.     Keutamaan dan Hikmah Mempelajari tafsir, ta’wil dan tarjamah
1.      Dapat mempermudah dalam mempelajari ketiganya.
2.      Dapat mengetahui lafazh-lafazh yang benar dan yang salah.
3.      Dapat membenarkan apabila ada kekeliruan dan kesalahan di ketiganya.
4.      Dapat mengetahui isi kandungan dalam Al-Qur’an.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Tafsir yaitu ilmu untuk mengetahui kandungan kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan penjelasan maknanya serta pengambilan hukum serta hikmah-hikmahnya. Ta’wil yaitu menafsirkan kalimat dan menerangkan artinya, baik arti tersebut sama dengan bunyi lahiriah kalimat tersebut ataupun berlawanan. Tarjamah yaitu mengungkapkan makna kalam (pembicaraan) yang terkandung dalam suatu bahasa dengan kalam yang lain dan dengan menggunakan bahasa yang lain (bukan bahasa pertama), lengkap dengan semua makna-maknanya dan maksud-maksudnya.
2.      Perbedaan tafsir dan ta’wil disatu pihak dan terjemah di pihak lain adalah bahwa yang pertama berupaya menjelaskan makna-makna setiap kata didalam Al-Qur’an, sedangkan yang kedua hanya mengalihkan bahasa Al-Qur’an yang berbahasa Arab ke dalam bahasa non-Arab.
3.      Terdapat banyak kriteria atau persyaratan untuk menjadi ahli tafsir, ta’wil dan tarjamah.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar Rosihon, 2008. Ulumul Qur’an. Bandung: Pustaka Setia
Ash Shabuny Mohammad Aly,1987. Pengantar Study Al-Qur’an (At-Tibyan). Bandung: Al-Ma’arif,
Yusuf Kadar, 2009. Studi Al-Qur’an. Jakarta: amzah
Hermawan Acep, 2011. Ulumul qur’an. Bandung: Remaja Rosdakarya


[1] Hermawan Acep, ‘Ulumul Qur’an, cet 1, Desember 2011, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), hal 113

[2] Anwar Rosihin, Ulum Al-Qur’an, cet 1, Maret 2008, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hal 211
[3] Ibid., hal 130

Sosialisasi dan Pola Hubungan pada Lembaga Pendidikan Islam



Sosialisasi dan Pola Hubungan pada Lembaga Pendidikan Islam

logo IAIN.jpg
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan Islam Dengan Dosen Pengampu Moh. Mahbub. S.Ag M.Si

Oleh :
Fidia Astuti
NIM : 123 111 163

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SURAKARTA
2012

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Sosialisasi menunjukkan pada semua faktor dan proses yang membuat setiap manusia menjadi selaras dalam hidupnya di tengah-tengah  masyarakat. Seorang anak dikatakan telah melakukan sosialisasi dengan baik, apabila ia bukan hanya menampilkan kebutuhannya sendiri saja, tetapi juga memerhatikan kepentingan dan tuntutan orang lain.
Manusia lahir ke dunia sebagai bayi yang penuh dengan segala macam kebutuhan fisik. Kemudian ia menjadi seorang manusia dengan seperangkat nilai dan sikap, kesukaan dan ketidaksukaan, tujuan serta maksud, pola reaksi dan konsep yang mendalam, serta konsisten dengan dirinya. Setiap orang memperoleh semua itu melalui suatu proses belajar yang kita sebut sebagai sosialisasi.
Lembaga pendidikan Islam di Indonesia salah satunya adalah pondok pesantren. Pesantren mempunyai tiga ciri umum yaitu kyai sebagai figure sentral, asrama sebagai tempat tinggal para santri, masjid sebagai pusat kegiatan, adanya pendidikan dan pengajaran agama Islam melalui system pengajian kitab dengan metode wetonan, sorogan dan musyawarah, yang sebagian sekarang telah berkembang dengan system klasikal atau madrasah.

B.     Rumusan masalah
1.      Apa pengertian sosialisasi?
2.      Apa pengertian pesantren?
3.      Apa pengertian proses sosialisasi?
4.      Bagaimana Proses Sosialisasi pada Lembaga Pendidikan Islam di Pesantren?
5.      Apa Peranan pondok pesantren dan madrasah?
6.      Apa metode pesantren dalam membentuk perilaku santri?

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian
1.      Sosialisasi
Islam bukanlah agama yang hanya berbicara masalah spiritual semata yaitu hubungan seorang hamba kepada Tuhannya, tanpa menyentuh urusan kemasyarakatan. Sebenarnya, islam bersifat universal. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tapi juga meletakkan dasar hubungan antar manusia dan kepentingan mereka. Sosialisasi Islam terwujud dalam sikap saling tolong menolong dan solidaritas sosial di kalangan kaum muslimin.
Sosialisme Islam sejalan dan sesuai dengan kodrat (fitrah) manusia. Sosialisme Islam menjamin dan melindungi harga diri manusia. Sosialisme Islam memperlakukan manusia tanpa membedakan dan tidak dibenarkan berbuat sewenang-wenang.
Proses sosialisasi merupakan aspek pendidikan yang penting dalam perubahan sosial. Proses sosialisasi tunduk pada suatu hukum pelajaran yaitu pelajaran sosial. Proses sosialisasi berlaku semenjak kanak-kanak. Agen pada masa itu adalah ibu dan bapak. Ada faktor yang mempengaruhi proses sosialisasi anak yaitu sikap ibu dan bapak terhadap apa yang diperbuat, dikatakan dan apa yang diperintahkan.[1]
Sosialisasi tercapai melalui komunikasi dengan anggota masyarakat lainnya. Pola kelakuan yang diharapkan dari anak terus menerus disampaikan dalam segala situasi di mana ia terlibat.




Pengertian sosialisasi menurut para ahli ialah :
a.    Soerjono Soekanto
Sosialisasi adalah proses sosial tempat seorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku yang sesuai dengan perilaku orang-orang di sekitarnya.
b.   Peter L. Berger
Sosialisasi adalah proses pada seorang anak yang sedang belajar menjadi anggota masyarakat. Adapun yang dipelajari ialah peranan hidup dalam masyarakat yang sesuai dengan nilai dan norma-norma maupun kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat.
c.    Prof. Dr. Nasution, S.H.
Sosialisasi adalah proses membimbing individu ke dalam dunia sosial (sebagai warga masyarakat yang dewasa)

2.      Pesantren
Pesantren berasal dari kata santri yang mendapat awalan pe dan akhiran an, berarti tempat tinggal para santri. Istilah santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru ngaji, dan ada juga yang mengatakan bahwa santri mempunyai arti orang yang tahu buku-buku suci, buku agama, atau buku tentang ilmu pengetahuan. Jadi istilah pesantren itu masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuk dan berkembangnya agama Hindu, sebelum datangnya Islam. Hal ini berarti metode dan kurikulum pesantren banyak diwarnai ajaran non Islam. Adapun setelah berkembangnya Islam, maka lembaga pesantren itu mendapat isi ajaran Islam.
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang sekurang-kurangnya mempunyai tiga ciri umum yaitu kyai sebagai figure sentral, asrama sebagai tempat tinggal para santri, dan masjid sebagai pusat kegiatan.
Pembangunan suatu pesantren di dorong oleh kebutuhan masyarakat akan adanya lembaga pendidikan lanjutan. Namun demikian faktor guru yang memenuhi persyaratan keilmuan yang diperlukan akan sangat menentukan bagi tumbuhnya suatu pesantren.

B.       Proses Sosialisasi
Proses sosialisasi adalah cara-cara berhubungan orang yang satu dengan yang lainnya dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem, serta bentuk-bentuk hubungan.
Sosialisasi tercapai melalui komunikasi dengan anggota masyarakat lainnya. Pola kelakuan yang diharapkan dari anak terus-menerus disampaikan dalam segala situsi dimana ia terlibat. Kelakuan yang tak sesuai di kesampingkan karena menimbulkan konflik dengan lingkungan sedangkan kelakuan yang sesuai dengan norma yang diharapkan dimantapkan.[2]
Pengertian sosialisasi menurut para ahli :
1.      Laurence
Proses sosialisasi adalah proses pendidikan atau latihan seseorang yang belum berpengalaman dalam suatu kebudayaan dan berusaha menguasai kebudayaan sebagai aspek perilakunya.
2.      Guire
Proses sosialisasi adalah proses penyajian kemungkinan-kemungkinan perilaku perorangan dengan sanksi positif atau negatif yang menyebabkan penerimaan atau penolakan oleh orang lain.
3.      Lawang, Robert M.Z
Proses sosialisasi adalah proses mempelajari norma, nilai, peran dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan berpartisipasi yang efektif dalam kehidupan sosial.
Proses Sosialisasi pada Lembaga Pendidikan Islam di Pesantren :
1.      Menempatkan lembaga pesantren sebagai subsistem sosial yang memiliki keterpautan timbal balik dengan keseluruhan sistem sosial masyarakat sebagai totalitas sosial.
2.      Sebagai entitas sosial yang tidak dapat begitu saja disamakan dengan masyarakat luas.
3.      Pesantren harus ditempatkan dalam konteks masyarakat umum sebagai konteks jauhnya dan masyarakat sekolah sebagai konteks dekatnya.

C.      Peranan pondok pesantren dan madrasah[3]
1.    Telah menunjukkan kemampuannya untuk tumbuh dan berkembang dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, serta kemampuannya untuk memasuki pelosok daerah terpencil disamping kemampuannya untuk tetap tumbuh dan berkembang di daerah perkotaan yang modern dan sangat maju.
2.    Sebagian besar adalah perguruan swasta yang berkemampuan tinggi untuk berswakarsa dan berswakarya dalam menyelenggarakan pendidikan. Dengan kata lain, madrasah dan pondok pesantren telah menunjukkan kemampuannya untuk tumbuh dan berkembang diatas kemampuan kekuatan sendiri, dengan memobilisasi sumber daya yang tersedia di masyarakat pendukungnya.
3.    Memiliki ciri khas sebagai pusat pendidikan, pengembangan dari penyebaran agama Islam, diharapkan dan telah membuktikan diri dapat menghasilkan keluaran yang berkualitas dan potensial untuk menjadi pendidik, khususnya di bidang pendidikan agama Islam.
4.    Memiliki potensi yang cukup besar untuk bersama-sama satuan pendidikan lainnya di dalam sistem pendidikan nasional untuk menuntaskan wajib belajar tingkap SLTP dan pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun. Dan atas dasar inilah Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah merupakan lembaga pendidikan dasar.

D.      Metode pesantren dalam membentuk perilaku santri
Bagi pesantren setidaknya ada 6 metode yang diterapkan dalam membentuk perilaku santri, yaitu :
1.      Metode keteladanan
Dalam pesantren, pemberian contoh keteladanan sangat ditekankan. Kyai dan ustadz harus senantiasa memberikan uswah yang baik bagi para santri, dalam ibadah, kehidupan sehari-hari maupun yang lain.
2.      Metode latihan dan pembiasaan
Mendidik dengan cara memberikan latihan-latihan terhadap norma-norma kemudian membiasakan santri untuk melakukannya. Biasanya diterapkan pada ibadah amaliyah, seperti shalat berjamaah, kesopanan pada kyai dan ustadz. Pergaulan sesama santri dan sejenisnya.
3.      Mendidik melalui ibrah (mengambil pelajaran)
Tujuannya ialah mengantar manusia pada kepuasan pikiran tentang perkara agama yang bisa menggerakkan, mendidik atau menambah perasaan keagamaan. Adapun pengambilan ibrah bisa dilakukan melalui kisah-kisah teladan, fenomena alam atau peristiwa-peristiwa yang terjadi.
4.      Mendidik melalui nasehat
Metode ini mengandung 3 unsur :
a.       Uraian tentang kebaikan dan kebenaran yang harus dilakukan oleh seseorang.
b.      Motivasi dalam melakukan kebaikan.
c.       Peringatan tentang dosa atau bahaya yang bakal muncul dari adanya larangan bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
5.      Mendidik melalui kedisiplinan
Metode ini identik dengan pemberian hukuman atau sangsi. Tujuannya untuk menumbuhkan kesadaran siswa bahwa apa yang dilakukan tersebut tidak benar, sehingga ia tidak mengulanginya.
6.      Mendidik melalui kemandirian
Kemandirian tingkah laku adalah kemampuan santri untuk mengambil dan melaksanakan keputusan secara bebas.

BAB III
KESIMPULAN

Sosialisasi menurut salah satu ahli ialah proses sosial tempat seorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku yang sesuai dengan perilaku orang-orang di sekitarnya.
Proses sosialisasi adalah cara-cara berhubungan orang yang satu dengan yang lainnya dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem, serta bentuk-bentuk hubungan.
Perbedaan pesantren dengan sekolah umum dapat dilihat dari beberapa hal yaitu dari sisi kurikulum, metode pengajaran, lingkungan belajar, dan komponen warga belajar.
Metode pesantren dalam membentuk perilaku santri ada 6 metode yaitu :
1.      Metode keteladanan
2.      Metode latihan dan pembiasaan
3.      Mendidik melalui ibrah (mengambil pelajaran)
4.      Mendidik melalui nasehat
5.      Mendidik melalui kedisiplinan
6.      Mendidik melalui kemandirian












DAFTAR PUSTAKA

Nasution. 2011. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Khoiriyah. 2012. Menggagas Sosiologi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Teras.
Hasbullah. 2001. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo.


[1] Khoiriyah, Menggagas Sosiologi Pendidikan Islam, (Yogyakarta : Teras, 2012), hlm. 80-81.
[2] Prof. Dr. S. Nasution, M.A., Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2011), hlm. 127.
[3] Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo, 2001), hlm. 178.

PORTOFOLIO RANGKUMAN TUGAS PEMBATIK LEVEL 4 TAHUN 2023

Tidak terasa perjalanan yang luar biasa hingga sampai pada titik ini. Langkah demi langkah, menyelesaikan tugas demi tugas yang tentunya ber...